Sifat-sifat Wajib bagi Allah
Pernahkah kalian memperhatikan alam sekitar tempat kalian tinggal, indah bukan? Setiap hari disinari matahari, setiap saat kita memerlukan air yang menyejukkan untuk mandi dan minum, gunung yang indah dan menghijau, serta lautan yang luas. Apalagi apabila kita perhatikan pada malam hari yang sangat cerah terlihat bintang gemerlapan ditambah bulan ikut tersenyum. Semua keajaiban alam ini tidaklah terjadi dengan sendirinya. Tentunya ada yang menciptakan yang maha perkasa dan maha segalanya, Dialah Allah dzat yang tunggal tiada Tuhan melainkan Dia.
Kita merupakan makhluk yang lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Oleh sebab itu, kita wajib mengimani adanya Allah dengan segala kesempurnaannya itu. Dalam sub modul kali ini kita akan mengenal dan memahami sifat-sifat wajib bagi Allah.
Sifat wajib Allah artinya sifat yang pasti dimiliki oleh Allah. Sifat wajib bagi Allah ada 13 ditambah 7 sifat lainnya sebagai pengulangan saja. Jadi, seluruhnya ada 20 sifat. Sifat-sifat wajib Allah tersebut di antaranya sebagai berikut.
Berikut ini uraian sifat-sifat wajib bagi Allah.
1. Wujud
Wujud artinya ada, maksudnya adalah Allah SWT itu memang ada. Sebagai buktinya kita bisa melihat adanya alam semesta. Tidak mungkin alam ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya. Alam dan isinya ini ada yang menciptakan, yaitu Allah SWT. Tidak ada yang mampu menciptakannya kecuali Allah SWT. Itulah salah satu bukti bahwa Allah itu ada. Firman Allah:
Artinya:
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah : 163)
2. Qidam
Qidam artinya dahulu. Maksudnya bahwa Allah SWT, lebih dahulu ada sebelum makhluk yang diciptakan-Nya. Tidak ada satu makhlukpun yang mendahului-Nya.
Firman Allah:
Artinya:
Dialah yang awal dan dia pula yang akhir, yang tampak dan tidak tampak. (Al-Hadid : 3)
3. Baqa
Baqa artinya kekal. Allah SWT tidak akan pernah hancur atau mati meskipun alam semesta ini hancur menjadi debu. Firman Allah:
Artinya:
“Semua yang ada di bumi akan rusak binasa, dan yang akan tetap adalah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman 26-27)
4. Mukhalafatu lilhawadisi
Mukhalafatu lilhawadisi artinya berbeda dengan makhluk-Nya, Allah tidak sama dengan sesuatu apapun. Firman Allah:
Artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (Asy-Syura : 11)
5. Qiyamuhu binafsi
Qiyamuhu binafsi ini berarti berdiri dengan sendirinya. Hal ini sesuiai dengan firman Allah swt. dalam surat Al Iklas ayat 3.
Artinya:
“Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan.”(Al-Ikhlash : 3)
6. Wahdaniat
Wahdaniat artinya esa atau tunggal. Hal ini sesuai dengan bunyi surat Al- Ikhlas ayat 1.
Artinya: “Katakalah, Dialah Allah Yang Maha Esa.” (Al-Ikhlas : 1)
7. Qudrat
Qudrat secara bahasa artinya berkuasa. Berkuasanya Allah meliputi segala sesuatu yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kekuasaan Allah SWT berbeda dengan kekuasaan yang dimiliki oleh makhluk-Nya (manusia). Kekuasaan Allah tidak terbatas sedangkan kekuasaan pada makhluk-Nya terbatas.
Artinya:
“Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah : 20)
8. Iradat
Iradat secara bahasa berarti berkehendak. Berkehendaknya Allah meliputi segala sesuatu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Allah berkendak kepada diri-Nya juga kepada makhluk-Nya. Kehendak Allah tidak ada yang dapat mengaturnya.
Contoh: Allah berkuasa dan berkehendak menciptakan alam semesta dengan segala isinya berikut dengan tata aturannya yang begitu rapi, seperti perputaran tata surya dan timbulnya siang dan malam.
Artinya:
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia (Allah) menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya “Jadilah” maka terjadilah dia (Yasin : 82)
9. Ilmu
Ilmu secara bahasa berarti mengetahui. Dengan sifat-Nya Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu di langit maupun di bumi. Allah mengetahui jumlah manusia yang hidup di bumi, Allah mengetahui jumlah jin yang ada di alam gaib bahkan Allah mengetahui gerak hati manusia.
Firman Allah SWT:
Artinya:
“Dan Dia mengetahui atas segala sesuatu.” (Al-Hadid : 3)
10. Hayat
Hayat secara bahasa berarti hidup Allah tidak ada awal dan akhirnya. Berbeda dengan hidup yang dimiliki oleh makhluk-Nya. Umur manusia misalnya rata-rata antara 60 sampai 100 tahun sedangkan Allah tetap hidup walaupun seluruh alam ini telah hancur.
Firman Allah SWT:
Artinya:
“Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia, yang hidup lagi berdiri sendiri.” (Al-Baqarah : 255)
11. Sama’
Sama’ secara bahasa berarti mendengar. Mendengarnya Allah berbeda dengan pendengaran yang dimiliki oleh manusia atau makhluk lainnya. Allah Maha Mendengar baik suara yang paling keras di alam ini maupun yang paling lembut. Misalnya, Allah mendengar doa manusia baik yang dikeraskan maupun di dalam hati.
Artinya:
“Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (Al-Maidah : 76)
12. Bashar
Bashar secara bahasa berarti melihat. Melihatnya Allah berbeda dengan cara melihat manusia atau makhluk lainnya. Penglihatan manusia dibatasi oleh hal-hal yang menghalanginya. Contoh, kita tidak bisa melihat orang yang ada di rumah ketika kita berada di luar rumah karena tembok rumah menghalangi pandangan kita. Penglihatan Allah tidak dibatasi seperti terbatasnya pandangan manusia. Allah melihat segala sesuatu yang terjadi baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Oleh sebab itu, kalian sebagai seorang anak muslim harus senantiasa beramal saleh dan menjauhi perbuatan salah karena Allah melihat kalian semua.
Allah SWT berfirman dalam surat Lukman ayat 16.
Artinya:
”Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau dilangit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Lukman : 16)
13. Kalam
Kalam secara bahasa berarti berfirman. Sebagai bukti dari sifat kalam ini, Allah telah memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad berupa Al-Quran. Sebagai anak muslim kita harus meyakini bahwa Allah SWT berbicara melalui kalam-Nya, berupa kitab suci Al-Quran. Oleh sebab itu, kita harus rajin membaca, memahami dan mengamalkan segala sesuatu yang diwahyukan Allah di dalam Al-Quran.
Firman Allah SWT:
Artinya:
Dan Allah telah berkata kepada Nabi Musa dengan langsung (An-Nisa : 164)
Saturday, 27 August 2016
KISAH NABI ISMAIL AS
Kisah Ismail as.
Sebagaiman dijelaskan dalam kisah Nabi Ibrahim, bahwa Ismail merupakan anak Ibrahim dari istri keduanya yang bernama Siti Hajar. Ismail terlahir untuk mengembalikan bangsa Arab dari kesesatannya menyembah berhala.
1. Siti Hajar dan Ismail kecil
Setelah Ibrahim mendapat anak bernama Ismail dari Istrinya Hajar, kemudian Sarah meminta Ibrahim agar meninggalkannya. Kecemburuannya membuat dia tidak bisa hidup bersama Hajar. Ibrahim mengabulkan keinginannya karena suatu hal yang dikehendaki Allah, maka Allah mewahyukan kepada Ibrahim agar membawa Hajar dan Ismail yang masih menyusu pergi bersama-sama menuju Mekah. Dengan bimbingan Allah mereka tiba di suatu tempat yang kemudian akan dibangun Kabah. Ibrahim menurunkan Hajar dan anaknya di tempat yang tandus dan tidak ada air, kemudian meninggalkan keduanya.
Hajar mengikutinya dengan sedih dan berkata, “Ke manakah engkau pergi? Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan hal ini?” Ibrahim menjawab, “Ya!” Hajar berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-siakan kami!” Lalu, Ibrahim berdoa seperti yang disebutkan dalam QS. Ibrahim ayat 37, yang artinya:
Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rejekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim 14 : 37)
Hajar mematuhi perintah Allah dengan sabar. Ia makan dari bekalnya dan minum dari air yang ditinggalkan oleh Ibrahim. Namun, setelah perbekalan mereka habis, ia dan putranya merasa kehausan. Hajar terus memandang putranya yang kehausan, sehingga ia tidak tahan menyaksikan pemandangan yang menyedihkan ini. Siti Hajar mondar-mandir mencari air dari bukit Shafa sampai ke bukit Marwah (tempat tersebut sekarang dijadikan tempat sa’i oleh para jemaah haji). Dengan seizin Allah, di sebuah tempat kemudian memancarlah air dari dalam tanah yang tidak henti-hentinya. Air tersebut diberi nama air zamzam, dan sampai sekarang masih ada. Dengan mata air tersebut Siti Hajar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dapat membesarkan anaknya walaupun ditinggalkan suaminya. Ketika Ibrahim kembali, tempat tersebut menjadi sebuah desa yang subur.
Ismail seorang anak yang baik, saleh, serta hormat terhadap orangtuanya. Kedua orangtuanya sangat mencintai dan menyayanginya. Ketika Ismail berusia 7 tahun, keluarga ini diuji keimanannya oleh Allah. Melalui mimpi, Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail anak kesayangannya sebagai bukti ketaatan mereka terhadap Allah.
2. Perintah untuk Menyembelih Ismail
Ibrahim kemudian memberitahukan mimpinya tersebut kepada Ismail. Sebagai anak yang saleh, Ismail paham bahwa ini merupakan perintah Allah dan ia pun merelakan dirinya untuk disembelih atas nama Allah oleh bapak kandungnya sendiri. Melihat kesalehan anaknya, Ibrahim dan Siti Hajar pun ikhlas menerima ujian ini.
Hingga pada waktunya, mereka menuju suatu bukit untuk melaksanakan perintah Allah ini. Setelah sampai di bukit, lalu Ismalil direbahkan di atas sebuah batu, dan Ibrahim siap untuk menyembelihnya. Tiba-tiba Ibrahim menerima wahyu dari Allah untuk menghentikan penyembelihan terhadap anaknya dan Ibrahim telah lulus menerima ujian dari Allah SWT. Sebagai gantinya Ismail digantinya dengan seekor domba untuk disembelih.
Demikian gambaran ketaatan Ibrahim dan keluarganya yakni Siti Hajar dan Ismail terhadap perintah Allah. Walaupun perintah tersebut berat, namun apabila itu datangnya dari Allah maka mereka akan melaksanakannya. Dan Allah pun menunjukkan kekuasaannya bagi orang yang beriman, sehingga Ismail tidak jadi disembelih.
Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah perintah kurban bagi setiap umat Islam. Kurban dilaksanakan satu tahun sekali dengan menyembelih sapi, unta atau kambing yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijjah) dan pada Hari Tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
Sebagaimana manusia lainnya, setelah dewasa Ismail pun berumah tangga. Pada awalnya ia menikah dengan seorang wanita Jurhum, namun karena akhlaknya yang kurang baik, maka atas anjuran ayahnya yang menyamar, Ismail menceraikan istrinya tersebut. Kemudian dia menikah lagi dengan dengan wanita Jurhum lainnya, wanita ini mempunyai akhlak yang baik. Dari wanita salehah ini, Ismail mendapatkan keturunan yang banyak dan saleh, sehingga mereka menjadi pemimpin yang baik.
3. Perintah Membangun Kabah
Pada suatu waktu, Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk membangun Kabah di Kota Mekah. Ibrahim kemudian mengajak anaknya untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Lalu, keduanya membangun Kabah yang nantinya akan dipergunakan untuk ibadah oleh umat manusia. Allah berpesan kepada Ibrahim dan Ismail agar membersihkan Kabah dari segala kemaksiatan.
4. Keteladanan dari Kisah Nabi Ismail as.
Dari kisah singkat perjalan Nabi Ibrahim, kita dapat menarik beberapa pelajaran yang dapat kita jadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya sebagai berikut.
1. Ketaatan terhadap perintah Allah.
2. Kerelaan Nabi Ismail untuk disembelih ayahnya.
3. Keputusan Nabi Ismail untuk menceraikan istrinya yang bertabiat kurang baik setelah mendapat pesan dari ayahnya.
4. Kesungguhan Nabi Ismail membantu ayahnya dalam membangun Kabah.
Sebagaiman dijelaskan dalam kisah Nabi Ibrahim, bahwa Ismail merupakan anak Ibrahim dari istri keduanya yang bernama Siti Hajar. Ismail terlahir untuk mengembalikan bangsa Arab dari kesesatannya menyembah berhala.
1. Siti Hajar dan Ismail kecil
Setelah Ibrahim mendapat anak bernama Ismail dari Istrinya Hajar, kemudian Sarah meminta Ibrahim agar meninggalkannya. Kecemburuannya membuat dia tidak bisa hidup bersama Hajar. Ibrahim mengabulkan keinginannya karena suatu hal yang dikehendaki Allah, maka Allah mewahyukan kepada Ibrahim agar membawa Hajar dan Ismail yang masih menyusu pergi bersama-sama menuju Mekah. Dengan bimbingan Allah mereka tiba di suatu tempat yang kemudian akan dibangun Kabah. Ibrahim menurunkan Hajar dan anaknya di tempat yang tandus dan tidak ada air, kemudian meninggalkan keduanya.
Hajar mengikutinya dengan sedih dan berkata, “Ke manakah engkau pergi? Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan hal ini?” Ibrahim menjawab, “Ya!” Hajar berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-siakan kami!” Lalu, Ibrahim berdoa seperti yang disebutkan dalam QS. Ibrahim ayat 37, yang artinya:
Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rejekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim 14 : 37)
Hajar mematuhi perintah Allah dengan sabar. Ia makan dari bekalnya dan minum dari air yang ditinggalkan oleh Ibrahim. Namun, setelah perbekalan mereka habis, ia dan putranya merasa kehausan. Hajar terus memandang putranya yang kehausan, sehingga ia tidak tahan menyaksikan pemandangan yang menyedihkan ini. Siti Hajar mondar-mandir mencari air dari bukit Shafa sampai ke bukit Marwah (tempat tersebut sekarang dijadikan tempat sa’i oleh para jemaah haji). Dengan seizin Allah, di sebuah tempat kemudian memancarlah air dari dalam tanah yang tidak henti-hentinya. Air tersebut diberi nama air zamzam, dan sampai sekarang masih ada. Dengan mata air tersebut Siti Hajar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dapat membesarkan anaknya walaupun ditinggalkan suaminya. Ketika Ibrahim kembali, tempat tersebut menjadi sebuah desa yang subur.
Ismail seorang anak yang baik, saleh, serta hormat terhadap orangtuanya. Kedua orangtuanya sangat mencintai dan menyayanginya. Ketika Ismail berusia 7 tahun, keluarga ini diuji keimanannya oleh Allah. Melalui mimpi, Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail anak kesayangannya sebagai bukti ketaatan mereka terhadap Allah.
2. Perintah untuk Menyembelih Ismail
Ibrahim kemudian memberitahukan mimpinya tersebut kepada Ismail. Sebagai anak yang saleh, Ismail paham bahwa ini merupakan perintah Allah dan ia pun merelakan dirinya untuk disembelih atas nama Allah oleh bapak kandungnya sendiri. Melihat kesalehan anaknya, Ibrahim dan Siti Hajar pun ikhlas menerima ujian ini.
Hingga pada waktunya, mereka menuju suatu bukit untuk melaksanakan perintah Allah ini. Setelah sampai di bukit, lalu Ismalil direbahkan di atas sebuah batu, dan Ibrahim siap untuk menyembelihnya. Tiba-tiba Ibrahim menerima wahyu dari Allah untuk menghentikan penyembelihan terhadap anaknya dan Ibrahim telah lulus menerima ujian dari Allah SWT. Sebagai gantinya Ismail digantinya dengan seekor domba untuk disembelih.
Demikian gambaran ketaatan Ibrahim dan keluarganya yakni Siti Hajar dan Ismail terhadap perintah Allah. Walaupun perintah tersebut berat, namun apabila itu datangnya dari Allah maka mereka akan melaksanakannya. Dan Allah pun menunjukkan kekuasaannya bagi orang yang beriman, sehingga Ismail tidak jadi disembelih.
Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah perintah kurban bagi setiap umat Islam. Kurban dilaksanakan satu tahun sekali dengan menyembelih sapi, unta atau kambing yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijjah) dan pada Hari Tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
Sebagaimana manusia lainnya, setelah dewasa Ismail pun berumah tangga. Pada awalnya ia menikah dengan seorang wanita Jurhum, namun karena akhlaknya yang kurang baik, maka atas anjuran ayahnya yang menyamar, Ismail menceraikan istrinya tersebut. Kemudian dia menikah lagi dengan dengan wanita Jurhum lainnya, wanita ini mempunyai akhlak yang baik. Dari wanita salehah ini, Ismail mendapatkan keturunan yang banyak dan saleh, sehingga mereka menjadi pemimpin yang baik.
3. Perintah Membangun Kabah
Pada suatu waktu, Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk membangun Kabah di Kota Mekah. Ibrahim kemudian mengajak anaknya untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Lalu, keduanya membangun Kabah yang nantinya akan dipergunakan untuk ibadah oleh umat manusia. Allah berpesan kepada Ibrahim dan Ismail agar membersihkan Kabah dari segala kemaksiatan.
4. Keteladanan dari Kisah Nabi Ismail as.
Dari kisah singkat perjalan Nabi Ibrahim, kita dapat menarik beberapa pelajaran yang dapat kita jadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya sebagai berikut.
1. Ketaatan terhadap perintah Allah.
2. Kerelaan Nabi Ismail untuk disembelih ayahnya.
3. Keputusan Nabi Ismail untuk menceraikan istrinya yang bertabiat kurang baik setelah mendapat pesan dari ayahnya.
4. Kesungguhan Nabi Ismail membantu ayahnya dalam membangun Kabah.
KISAH IBRAHIM AS
Kisah Ibrahim as.
Pada zaman dahulu di daerah Babilonia (sekarang Negara Irak) ada sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja zalim yang bernama Namrud. Dia mengaku dirinya sebagai Tuhan, sehingga rakyatnya diharuskan menyembah berhala dan dirinya. Karena merasa takut, rakyatpun melakukan apa yang diperintah oleh sang raja. Apabila membantah maka akan disiksa bahkan dibunuh.
Sampai suatu saat Allah mengutus seorang Nabi, yaitu Ibrahim. Nabi Ibrahim merupakan putra seorang pembuat patung dan arca, yaitu Azar. Semenjak kecil Ibrahim sudah memiliki sikap yang baik dan mempunyai kecerdasan berfikir yang luar biasa. Ketika masyarakat menyembah berhala yang berupa patung-patung dan arca yang dibuat oleh bapaknya, Ibrahim berpikir, mengapa manusia harus menyembah patung atau arca, padahal benda itu tidak bisa mendengar dan juga tidak bisa melihat. Tidak pantas seorang Tuhan itu buta dan tuli. Pasti ada yang lebih sempurna dan berkuasa, yang mampu menghidupkan serta mematikan makhluknya.
1. Ibrahim Mencari Tuhan
Ibrahim merasa penasaran tentang siapa Tuhan yang sebenarnya. Siang dan malam ia mencari Tuhannya dengan menggunakan akalnya, tetapi ia tidak menemukan tuhan pada benda-benda alam yang ada. Akhirnya Ibrahim dapat menyimpulkan bahwa Tuhan itu adalah pencipta alam semesta ini.
Demikian Ibrahim mencari Tuhan. Setelah ia yakin, kemudian ia mulai melakukan dakwahnya menyiarkan Agama Allah, dengan cara mengajak masyarakat agar tidak menyembah berhala tetapi menyembah Tuhan yang telah menciptakannya.
Ajakan Ibrahim tersebut tentu saja membuat raja marah dan membenci Ibrahim. Ayahnya yang seorang pembuat patung, tidak terlepas dari ajakan Ibrahim untuk menghentikan perbuatannya dan meninggalkan menyembah berhala.
2. Ibrahim Sang Penghancur Berhala
Ibrahim sangat membenci berhala-berhala. Menurutnya berhala hanya sebuah batu yang diukir, tidak memiliki kekuatan sedikitpun, tidak mendengar dan tuli sehingga tidak pantas untuk disembah.
Sampai suatu ketika, Raja Namrud beserta kaumnya mengadakan upacara agama ke luar kampung, sehingga kampungnya menjadi kosong. Pada saat itu Ibrahim pergi ke tempat berhala dan menghancurkan berhala-berhala tersebut yang berjumlah 73 buah satu per satu. Hanya satu berhala terbesar yang dia sisakan. Kapak yang digunakan untuk menghancurkan patung-patung tersebut ia kalungkan pada leher berhala yang paling besar, kemudian dia pergi.
Ketika pulang dari upacara, mereka langsung menuju rumah tempat menyimpan berhala-berhala tersebut. Mereka terkejut melihat Tuhan mereka hancur berantakan, dan hanya satu berhala yang masih utuh. Mereka langsung menduga bahwa Ibrahim adalah pelakunya. Sebab, selama ini hanya dia yang tidak menyembah berhala.
Raja kemudian memanggil Ibrahim dan bertanya, “Wahai Ibrahim, apakah engkau yang menghancurkan patung-patung sesembahan kami?” Ibrahim menjawab, “Mengapa engkau menanyakan kepada saya? Tanyakan saja pada patung yang besar ini, bukankah kapaknya terdapat pada patung ini?” Raja Namrud tambah marah, kemudian berkata, “Tidak mungkin aku bertanya pada patung ini, sebab dia tidak bisa berbicara dan tidak bisa berbuat apa-apa!” Ibrahim berkata lagi, “Kalau patung ini tidak bisa berbuat apa-apa, mengapa kau sembah?”
Orang-orang yang ada di sekitar mereka berpikir, memang benar apa yang dikatakan Ibrahim. Mengapa patung yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa berbuat apa-apa mereka sembah? Bukankah Tuhan itu harus lebih sempurna dari pada manusia?
Namrud yang sangat marah dan tersinggung dengan jawaban Ibrahim, kemudian memerintahkan kepada anak buahnya agar membakar Ibrahim hidup-hidup.
Kemudian rakyat di negeri itu mengumpulkan kayu bakar sampai bertumpuk sebesar gunung. Setelah siap, mereka menyiapkan alat semacam meriam untuk melemparkan Ibrahim ke dalam tumpukan api. Ibrahim tetap pada keyakinannya bahwa Tuhannya adalah dzat yang menciptakan alam semesta. Ia memohon kepada Allah agar dia diselamatkan dari segala macam upaya yang dilakukuan oleh Namrud. Setelah semua siap, api dibakar dan Ibrahim dilemparkan ke tengah-tengah kobaran api. Lalu, Allah dengan kekuasaannya memerintahkan terhadap api supaya dingin.
Artinya:
“Hai api! Hendaklah dingin dan selamatkan Ibrahim!”
Maka selamatlah Ibrahim dari api itu. Ia tidak terbakar sedikitpun dan tidak merasa panas, bahkan ia merasa dingin. Setelah api padam, keluarlah Ibrahim dan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu merasa sangat heran. Peristiwa tersebut menyebabkan banyak orang mulai mengikuti ajaran yang dibawa Ibrahim. Mendengar berita tersebut, kemudian Namrud mengusir Ibrahim dari negeri itu. Lalu, Ibrahim pergi ke kota Syam (Kan’an) atau sekarang Palestina. Di tempat ini beliau berumah tangga dan menyebarkan agamanya.
3. Istri dan Anak Ibrahim as.
Pada awalnya Ibrahim menikah dengan seorang istri bernama Siti Sarah. Namun, pasangan ini tidak mendapatklan keturunan (anak). Kemudian Ibrahim menikah lagi dengan seorang wanita bernama Siti Hajar. Dari istri yang kedua ini beliau mendapatkan seorang anak yang bernama Ismail, yang kemudian menjadi nabi. Setelah sekian lama, barulah Siti Sarah (istri pertamanya) mempunyai anak, yaitu Ishak. Dari Nabi Ishak ini yang kemudian menurunkan beberapa orang nabi seperti Nabi Yakub as., dan terus menurunkan keturunan-keturunan nabi lainnya. Karena para nabi dan rasul semuanya keturunan Nabi Ibrahim, maka Ibrahim dikenal dengan Abul Anbiya atau bapaknya para nabi.
4. Keteladanan dari Kisah Nabi Ibrahim as.
Dari kisah singkat perjalan Nabi Ibrahim, kita dapat menarik beberapa pelajaran yang dapat dicontoh dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
1. menggunakan akal sehat untuk mencari kebenaran;
2. keberaniannya untuk menghancurkan menegakkan kebenaran;
3. kesabaran yang luar biasa karena perintah dari Allah untuk meninggalkan istrinya di padang yang sangat panas dan tandus dan tidak ada air;
4. keikhlasan Nabi Ibrahim dan istrinya untuk menyembelih putranya sendiri karena diperintah oleh Allah;
5. Ketaatan Nabi Ibrahim terhadap Allah untuk membangun Kabah.
1. Di negara manakah Ibrahim dilahirkan?
2. Mengapa Nabi Ibrahim tidak menyukai pekerjaan ayahnya?
3. Di manakah Nabi Ibrahim menyimpan kapak yang dipergunakan untuk menghancurkan berhala?
4. Mengapa Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud?
5. Sebutkan mukjizat Nabi Ibrahim yang kamu ketahui!
Pada zaman dahulu di daerah Babilonia (sekarang Negara Irak) ada sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja zalim yang bernama Namrud. Dia mengaku dirinya sebagai Tuhan, sehingga rakyatnya diharuskan menyembah berhala dan dirinya. Karena merasa takut, rakyatpun melakukan apa yang diperintah oleh sang raja. Apabila membantah maka akan disiksa bahkan dibunuh.
Sampai suatu saat Allah mengutus seorang Nabi, yaitu Ibrahim. Nabi Ibrahim merupakan putra seorang pembuat patung dan arca, yaitu Azar. Semenjak kecil Ibrahim sudah memiliki sikap yang baik dan mempunyai kecerdasan berfikir yang luar biasa. Ketika masyarakat menyembah berhala yang berupa patung-patung dan arca yang dibuat oleh bapaknya, Ibrahim berpikir, mengapa manusia harus menyembah patung atau arca, padahal benda itu tidak bisa mendengar dan juga tidak bisa melihat. Tidak pantas seorang Tuhan itu buta dan tuli. Pasti ada yang lebih sempurna dan berkuasa, yang mampu menghidupkan serta mematikan makhluknya.
1. Ibrahim Mencari Tuhan
Ibrahim merasa penasaran tentang siapa Tuhan yang sebenarnya. Siang dan malam ia mencari Tuhannya dengan menggunakan akalnya, tetapi ia tidak menemukan tuhan pada benda-benda alam yang ada. Akhirnya Ibrahim dapat menyimpulkan bahwa Tuhan itu adalah pencipta alam semesta ini.
Demikian Ibrahim mencari Tuhan. Setelah ia yakin, kemudian ia mulai melakukan dakwahnya menyiarkan Agama Allah, dengan cara mengajak masyarakat agar tidak menyembah berhala tetapi menyembah Tuhan yang telah menciptakannya.
Ajakan Ibrahim tersebut tentu saja membuat raja marah dan membenci Ibrahim. Ayahnya yang seorang pembuat patung, tidak terlepas dari ajakan Ibrahim untuk menghentikan perbuatannya dan meninggalkan menyembah berhala.
2. Ibrahim Sang Penghancur Berhala
Ibrahim sangat membenci berhala-berhala. Menurutnya berhala hanya sebuah batu yang diukir, tidak memiliki kekuatan sedikitpun, tidak mendengar dan tuli sehingga tidak pantas untuk disembah.
Sampai suatu ketika, Raja Namrud beserta kaumnya mengadakan upacara agama ke luar kampung, sehingga kampungnya menjadi kosong. Pada saat itu Ibrahim pergi ke tempat berhala dan menghancurkan berhala-berhala tersebut yang berjumlah 73 buah satu per satu. Hanya satu berhala terbesar yang dia sisakan. Kapak yang digunakan untuk menghancurkan patung-patung tersebut ia kalungkan pada leher berhala yang paling besar, kemudian dia pergi.
Ketika pulang dari upacara, mereka langsung menuju rumah tempat menyimpan berhala-berhala tersebut. Mereka terkejut melihat Tuhan mereka hancur berantakan, dan hanya satu berhala yang masih utuh. Mereka langsung menduga bahwa Ibrahim adalah pelakunya. Sebab, selama ini hanya dia yang tidak menyembah berhala.
Raja kemudian memanggil Ibrahim dan bertanya, “Wahai Ibrahim, apakah engkau yang menghancurkan patung-patung sesembahan kami?” Ibrahim menjawab, “Mengapa engkau menanyakan kepada saya? Tanyakan saja pada patung yang besar ini, bukankah kapaknya terdapat pada patung ini?” Raja Namrud tambah marah, kemudian berkata, “Tidak mungkin aku bertanya pada patung ini, sebab dia tidak bisa berbicara dan tidak bisa berbuat apa-apa!” Ibrahim berkata lagi, “Kalau patung ini tidak bisa berbuat apa-apa, mengapa kau sembah?”
Orang-orang yang ada di sekitar mereka berpikir, memang benar apa yang dikatakan Ibrahim. Mengapa patung yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa berbuat apa-apa mereka sembah? Bukankah Tuhan itu harus lebih sempurna dari pada manusia?
Namrud yang sangat marah dan tersinggung dengan jawaban Ibrahim, kemudian memerintahkan kepada anak buahnya agar membakar Ibrahim hidup-hidup.
Kemudian rakyat di negeri itu mengumpulkan kayu bakar sampai bertumpuk sebesar gunung. Setelah siap, mereka menyiapkan alat semacam meriam untuk melemparkan Ibrahim ke dalam tumpukan api. Ibrahim tetap pada keyakinannya bahwa Tuhannya adalah dzat yang menciptakan alam semesta. Ia memohon kepada Allah agar dia diselamatkan dari segala macam upaya yang dilakukuan oleh Namrud. Setelah semua siap, api dibakar dan Ibrahim dilemparkan ke tengah-tengah kobaran api. Lalu, Allah dengan kekuasaannya memerintahkan terhadap api supaya dingin.
Artinya:
“Hai api! Hendaklah dingin dan selamatkan Ibrahim!”
Maka selamatlah Ibrahim dari api itu. Ia tidak terbakar sedikitpun dan tidak merasa panas, bahkan ia merasa dingin. Setelah api padam, keluarlah Ibrahim dan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu merasa sangat heran. Peristiwa tersebut menyebabkan banyak orang mulai mengikuti ajaran yang dibawa Ibrahim. Mendengar berita tersebut, kemudian Namrud mengusir Ibrahim dari negeri itu. Lalu, Ibrahim pergi ke kota Syam (Kan’an) atau sekarang Palestina. Di tempat ini beliau berumah tangga dan menyebarkan agamanya.
3. Istri dan Anak Ibrahim as.
Pada awalnya Ibrahim menikah dengan seorang istri bernama Siti Sarah. Namun, pasangan ini tidak mendapatklan keturunan (anak). Kemudian Ibrahim menikah lagi dengan seorang wanita bernama Siti Hajar. Dari istri yang kedua ini beliau mendapatkan seorang anak yang bernama Ismail, yang kemudian menjadi nabi. Setelah sekian lama, barulah Siti Sarah (istri pertamanya) mempunyai anak, yaitu Ishak. Dari Nabi Ishak ini yang kemudian menurunkan beberapa orang nabi seperti Nabi Yakub as., dan terus menurunkan keturunan-keturunan nabi lainnya. Karena para nabi dan rasul semuanya keturunan Nabi Ibrahim, maka Ibrahim dikenal dengan Abul Anbiya atau bapaknya para nabi.
4. Keteladanan dari Kisah Nabi Ibrahim as.
Dari kisah singkat perjalan Nabi Ibrahim, kita dapat menarik beberapa pelajaran yang dapat dicontoh dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
1. menggunakan akal sehat untuk mencari kebenaran;
2. keberaniannya untuk menghancurkan menegakkan kebenaran;
3. kesabaran yang luar biasa karena perintah dari Allah untuk meninggalkan istrinya di padang yang sangat panas dan tandus dan tidak ada air;
4. keikhlasan Nabi Ibrahim dan istrinya untuk menyembelih putranya sendiri karena diperintah oleh Allah;
5. Ketaatan Nabi Ibrahim terhadap Allah untuk membangun Kabah.
1. Di negara manakah Ibrahim dilahirkan?
2. Mengapa Nabi Ibrahim tidak menyukai pekerjaan ayahnya?
3. Di manakah Nabi Ibrahim menyimpan kapak yang dipergunakan untuk menghancurkan berhala?
4. Mengapa Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud?
5. Sebutkan mukjizat Nabi Ibrahim yang kamu ketahui!
ADZAN DAN IQAMAH
D. Azan dan Iqamah
1. Azan
Azan artinya ajakan atau panggilan. Maksudnya, ajakan atau panggilan untuk mengajak orang lain melakukan shalat. Orang yang mengumandangkan azan disebut muazin. Di dalam sejarah Islam, muazin pertama adalah Bilal.
Apabila telah dikumandangkan suara azan, itu artinya mengajak kita untuk melaksanakan shalat berjamaah di mesjid atau salah satu pertanda telah masuk waktu shalat.
Azan hanya berlaku untuk panggilan shalat wajib yang 5 waktu. Adapun untuk shalat sunat tidak ada azan. Hukum melakukan azan sebelum shalat fardu adalah sunat. Maksudnya, apabila azan itu dilakukan maka berpahala, dan apabila tidak dilakukan maka tidak berdosa.
Jadi, sebelum shalat wajib disunatkan untuk azan terlebih dahulu untuk mengajak shalat kepada orang lain dan menyiarkan syiar Islam kepada masyarakat.
Adapun lafadz azan adalah sebagai berikut:
Lafadz-lafadz azan tersebut dibaca masing-masing dua kali, kecuali pada lafadz terakhir, yaitu , hanya satu kali.
Apabila azan dikumandangkan, orang yang mendengar azan disunatkan untuk mengkuti bacaan azan, kecuali pada lafadz di bawah ini.
Sesudah azan dikumandangkan baik yang melakukan azan atau yang mendengarkan disunatkan untuk berdoa. Doa setelah azan adalah:
Artinya:
“Ya Allah yang memelihara ajakan sempurna ini dan shalat yang didirikan, semoga Allah memberikan derajat yang tinggi dan mulia kepada Nabi Muhammad, dan semoga Allah memberikan kepada beliau (Muhammad) tempat yang agung yang telah Engkau janjikan kepadanya (Muhammad).” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
2. Iqamah
Iqamah (qamat) artinya mendirikan. Maksudnya, ajakan agar segera berdiri untuk mendirikan shalat. Jika azan telah selesai dan shalat fardu akan segera dimulai, maka disunatkan untuk mengumandangkan iqamah (qamat).
Adapun lafadz iqamah adalah sebagai berikut.
Iqamat dibacakan pada saat mendirikan shalat wajib saja. Ketika akan mendirikan shalat sunat tidak perlu dibaca.
Setelah iqamat dibacakan maka tidak boleh ada kegiatan lain, kecuali siap-siap untuk mendirikan shalat dengan khusyuk.
1. Azan
Azan artinya ajakan atau panggilan. Maksudnya, ajakan atau panggilan untuk mengajak orang lain melakukan shalat. Orang yang mengumandangkan azan disebut muazin. Di dalam sejarah Islam, muazin pertama adalah Bilal.
Apabila telah dikumandangkan suara azan, itu artinya mengajak kita untuk melaksanakan shalat berjamaah di mesjid atau salah satu pertanda telah masuk waktu shalat.
Azan hanya berlaku untuk panggilan shalat wajib yang 5 waktu. Adapun untuk shalat sunat tidak ada azan. Hukum melakukan azan sebelum shalat fardu adalah sunat. Maksudnya, apabila azan itu dilakukan maka berpahala, dan apabila tidak dilakukan maka tidak berdosa.
Jadi, sebelum shalat wajib disunatkan untuk azan terlebih dahulu untuk mengajak shalat kepada orang lain dan menyiarkan syiar Islam kepada masyarakat.
Adapun lafadz azan adalah sebagai berikut:
Lafadz-lafadz azan tersebut dibaca masing-masing dua kali, kecuali pada lafadz terakhir, yaitu , hanya satu kali.
Apabila azan dikumandangkan, orang yang mendengar azan disunatkan untuk mengkuti bacaan azan, kecuali pada lafadz di bawah ini.
Sesudah azan dikumandangkan baik yang melakukan azan atau yang mendengarkan disunatkan untuk berdoa. Doa setelah azan adalah:
Artinya:
“Ya Allah yang memelihara ajakan sempurna ini dan shalat yang didirikan, semoga Allah memberikan derajat yang tinggi dan mulia kepada Nabi Muhammad, dan semoga Allah memberikan kepada beliau (Muhammad) tempat yang agung yang telah Engkau janjikan kepadanya (Muhammad).” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
2. Iqamah
Iqamah (qamat) artinya mendirikan. Maksudnya, ajakan agar segera berdiri untuk mendirikan shalat. Jika azan telah selesai dan shalat fardu akan segera dimulai, maka disunatkan untuk mengumandangkan iqamah (qamat).
Adapun lafadz iqamah adalah sebagai berikut.
Iqamat dibacakan pada saat mendirikan shalat wajib saja. Ketika akan mendirikan shalat sunat tidak perlu dibaca.
Setelah iqamat dibacakan maka tidak boleh ada kegiatan lain, kecuali siap-siap untuk mendirikan shalat dengan khusyuk.
SHALAT FARDU
SHALAT FARDU
A. Ketentuan Shalat
Shalat termasuk ke dalam rukun Islam, yaitu rukun Islam yang ke-2. Shalat merupakan tiang agama, orang yang mengerjakan shalat sama artinya telah menegakkan agama dan orang yang meninggalkannya sama dengan telah merusak agama. Oleh sebab itu, setiap muslim diwajibkan untuk melaksanakan shalat terutama shalat wajib 5 waktu.
Menjalankan shalat memiliki fungsi dalam kehidupan, diantaranya dengan shalat yang benar akan membentuk pribadi yang disiplin, patuh terhadap peraturan yang berlaku, taat kepada orangtua dan guru serta membentuk pribadi siswa yang rendah hati atau tidak sombong. Dengan kata lain, dengan melaksanakan shalat yang baik dan benar akan mencegah dari berbuat durhaka kepada Allah dan kemungkaran.
1. Pengertian Shalat
Asal makna shalat menurut bahasa arab ialah “doa”. Adapun yang dimaksud di sini ialah ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, serta memenuhi beberapa syarat yang ditentukan.
Firman Allah SWT:
“Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut : 45)
Shalat itu ada yang wajib ada pula yang sunat. Shalat wajib adalah shalat yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Kewajiban melaksanakan shalat tersebut adalah 5 kali dalam sehari, yaitu:
a. shalat subuh terdiri dari 2 rakaat,
b. shalat zuhur terdiri dari 4 rakaat,
c. shalat asar terdiri dari 4 rakaat,
d. shalat magrib terdiri dari 3 rakaat,
e. shalat isya terdiri dari 4 rakaat.
2. Rukun Shalat
Di dalam menjalankan ibadah shalat kita diharuskan untuk melakukannya sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah, yaitu dari rukun-rukunnya, dari segi gerakan, bacaan, termasuk keadaan hati ketika shalat. Apabila hal-hal seperti ini tidak diperhatikan, maka shalatnya rusak, batal, serta tidak berpahala di sisi Allah. Oleh sebab itu, kita diwajibkan mempelajari praktek shalat dengan benar. Rasulullah bersabda:
Artinya:
“Shalatlah kalian sebagaimana aku shalat.”
Sebelum menjalankan ibadah shalat, terlebih dahulu badan kita harus bersih dari najis dan hadas, yaitu dengan cara berwudu. Setelah berwudu maka kita bersiap untuk melaksanakan shalat dalam keadaan rapi, menutup aurat serta menghadap kiblat.
Di dalam mengerjakan shalat hendaknya memperhatikan hal-hal yang menjadi rukun shalat. Jika ada salah satu rukun yang tidak dilaksanakan maka shalatnya tidak syah atau batal. Yang termasuk rukun shalat adalah sebagai berikut.
1. Niat mengerjakan shalat,
2. Berdiri tegak jika berkuasa,
3. Takbiratul ihram, sambil membaca Allahu Akbar,
4. Membaca surat Al-Fatihah,
5. Ruku dengan tumaninah,
6. Itidal dengan tumaninah,
7. Sujud dua kali dengan tumaninah,
8. Duduk di antara dua sujud dengan tumaninah,
9. Duduk tasyahud awal,
10. Duduk tasyahud akhir, dengan cara duduk tawarruk,
11. Membaca salawat atas Nabi,
12. Membaca salam yang pertama,
13. Menertibkan rukun shalat.
B. Praktek Shalat
Setelah kita mengetahui rukun-rukun shalat, sekarang mari kita belajar melaksanakan shalat sesuai dengan contoh Nabi.
1. Niat mengerjakan shalat,
2. Berdiri tegak jika berkuasa,
Berdiri dengan menghadap kiblat, kedua tangan diturunkan ke samping, mata merunduk ke bawah ke arah tempat sujud,
3. Takbiratul ihram
Kedua belah tangan diangkat ke arah telinga dengan jari-jari rapat namun terbuka, sambil membaca;
Allahu akbar
Artinya: “Allah Maha Besar”
Setelah takbir, keadaan tangan sedekap (tangan kanan disimpan di tangan kiri dalam keadaan menggenggam sedikit lebih atas dari pergelangan tangan kiri).
4. Setelah itu membaca doa iftitah. Dalam membaca iftitah ini ada beberapa doa yang bisa kita baca, yaitu:
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah dengan kemuliaan-Mu, dengan nama-Mu yang penuh berkah dan dengan keagungan-Mu yang Maha Tinggi, tiada Tuhan selain Engkau.” (HR. Muslim)
Atau:
Artinya:
Ya Allah, Engkau telah menjauhlan antara Timur dan Barat, Ya Allah bersihkanlah saya dari kesalahan, sebagaimana kain putih dibersihkan dari segala kotoran. Ya Allah basuhlah kesalahanku dengan air, salju dan embun. (HR. Bukhari Muslim)
Atau:
Artinya:
“Sesungguhnya kuhadapkan wajahku kepada dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan berserah diri, dan aku bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanya bagi Allah semata, Tuhan seru sekalian alam, tidak ada sekuru bagi-Nya: dan dengan demikian itulah aku perintahkan, dan aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri .... sampai dan saya kembali kepadamu.” (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan Abu Daud)
5. Membaca surat Al-Fatihah,
Bacaan surat Al-Fatihah:
6. Setelah membaca surat Al-Fatihah kemudian membaca ayat-ayat pendek,
7. Ruku dengan tumaninah,
Setelah membaca surat, angkat kedua belah tangan sambil membaca ”Allahu akbar”, kemudian ruku (membungkuk, kedua tangan memegang lutut), lalu membaca:
Subhaanarabbiyal ‘azhiim
“Maha suci Tuhanku yang Maha Agung”, sebanyak 3x.
8. Itidal dengan tumaninah,
Setelah ruku, kita bangkit dan berdiri kembali sambil mengangkat kedua tangan seperti pada takbiratul ihram, sambil membaca:
Sami’al laahu liman hamidah
“Semoga Allah berkenan mendengarkan ucapan orang yang memujinya.”
Setelah itu berdiri tegak, kedua tangan kita lepaskan lurus ke bawah sejajar dengan badan, kemudian diikuti dengan membaca:
Rabbanaa wa lakal hamdu.
“Wahai Tuhan kami, dan hanya bagi-Mu segala puji.“
9. Sujud dua kali dengan tumaninah,
Ketika sujud membaca doa:
“Maha suci Tuhanku yang Maha Tinggi dengan memuji kepada-Nya” sebanyak 3x.
10. Duduk di antara dua sujud dengan tumaninah,
Setelah sujud kita duduk iftirasy yakni kaki kiri diduduki, sementara kaki kanan berdiri dan jari-jarinya dilipat, sambil membaca:
“Ya Tuhan, ampunilah aku, cukupilah kekuranganku, angkatlah derajatku, beri rizkilah aku, beri petunjuklah aku, sehatkanlah aku, dan maafkanlah aku.”
Setelah itu melakukan sujud yang kedua, dengan cara dan bacaan yang sama seperti sujud pertama.
11. Duduk tasyahud awal,
Pada rakaat kedua, setelah bangkit dari sujud kedua, lalu duduk tasyahud (tahiyat) awal, dengan cara duduk iftirasy yakni kaki kiri diduduki, sementara kaki kanan berdiri dan jari-jarinya dilipat, sambil membaca:
“Segala kehormatan, keberkatan, rahmat dan kebaikan adalah bagi Allah. Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkatan Allah tetap terlimpah atasmu wahai Nabi. Semoga keselamatan tetap bagi kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwasannya Muhammmad adalah utusan-Nya.”
Atau bisa juga membaca:
Artinya:
“Segala kehormatan, segala doa dan ucapan yang baik kepunyaan Allah, dan kesejahteraan atasmu wahai Nabi. Semoga keselamatan tetap bagi kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwasannya Muhammmad adalah utusan-Nya.”
12. Duduk tasyahud akhir, dengan cara duduk tawarruk yakni kaki kiri tidak lagi diduduki seperti pada tahiyyat awal, tetapi jari jemari kaki kiri muncul di bawah kaki kanan dan kita duduk pada tempat shalat (sajadah), sementara kaki kanan berdiri dan jari-jarinya dilipat.
13. Membaca shalawat atas Nabi,
Membaca shalawat ini dilakukan pada waktu duduk tasyahud akhir. Bacaannya sama dengan tasyahud awal, hanya pada tasyahud akhir ini dilengkapi dengan membaca shalawat atas Nabi:
“Sebagaimana Engkau telah memberi shalawat atas Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarganya, dan seluruh alam semesta ini, Engkaulah yang Maha Terpuji dan Maha Mulia.”
14. Setelah itu, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa:
Allahumma inni a’uudzubika min ‘adzaabil qobri wamin ‘adzaabil jahannama wamin fitnatil mahya walmamati wamin fitnatil masihid dajjal.
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala siksa kubur dan dari siksa neraka jahanam, serta dari fitnah kehidupan dan dari fitnah tipu daya dajjal.”
15. Membaca salam yang pertama,
Setelah tahiyat akhir kemudian salam (kepala menengok ke kanan kemudian ke kiri) sambil membaca:
“Semoga keselamatan dan rahmat Allah dilimpahkan atas kamu sekalian.”
1. Hafalkanlah setiap gerakan dan bacaan shalat yang telah kamu pelajari!
2. Buatlah kelompok yang terdiri dari lima orang dan praktekkan oleh masing-masing kelompok tata cara shalat subuh, zuhur, asar, magrib, dan isya di depan kelas dengan disaksikan guru dan kelompok lain!
Kegiatan Belajar 3
C. Hal-Hal yang Membatalkan Shalat
Di dalam mengerjakan shalat hendaknya memperhatikan hal-hal yang membatalkan shalat. Sebab, jika tidak maka kita akan rugi, dan shalat yang telah dilaksanakan menjadi sia-sia.
Ada tiga hal yang membatalkan shalat, yaitu sebagai berikut.
1. Tertinggal syarat shalat, misalnya;
a. tidak berwudu,
b. belum masuk waktu shalat,
c. terbuka aurat,
d. tidak menghadap kiblat, dan sebagainya.
2. Tertinggal rukun shalat, misalnya;
a. tidak berniat,
b. tidak takbiratul ihram, dan lain-lain.
3. Hal-hal lain
Ada hal lain yang membatalkan shalat, yaitu;
a. berkata-kata, bercakap-cakap, berbisik-bisik,
b. batal wudu,
c. sengaja bergerak selain gerakan shalat,
d. makan dan minum,
e. mengambil atau membuang sesuatu yang membatalkan wudu juga membatalkan shalat.
A. Ketentuan Shalat
Shalat termasuk ke dalam rukun Islam, yaitu rukun Islam yang ke-2. Shalat merupakan tiang agama, orang yang mengerjakan shalat sama artinya telah menegakkan agama dan orang yang meninggalkannya sama dengan telah merusak agama. Oleh sebab itu, setiap muslim diwajibkan untuk melaksanakan shalat terutama shalat wajib 5 waktu.
Menjalankan shalat memiliki fungsi dalam kehidupan, diantaranya dengan shalat yang benar akan membentuk pribadi yang disiplin, patuh terhadap peraturan yang berlaku, taat kepada orangtua dan guru serta membentuk pribadi siswa yang rendah hati atau tidak sombong. Dengan kata lain, dengan melaksanakan shalat yang baik dan benar akan mencegah dari berbuat durhaka kepada Allah dan kemungkaran.
1. Pengertian Shalat
Asal makna shalat menurut bahasa arab ialah “doa”. Adapun yang dimaksud di sini ialah ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, serta memenuhi beberapa syarat yang ditentukan.
Firman Allah SWT:
“Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut : 45)
Shalat itu ada yang wajib ada pula yang sunat. Shalat wajib adalah shalat yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Kewajiban melaksanakan shalat tersebut adalah 5 kali dalam sehari, yaitu:
a. shalat subuh terdiri dari 2 rakaat,
b. shalat zuhur terdiri dari 4 rakaat,
c. shalat asar terdiri dari 4 rakaat,
d. shalat magrib terdiri dari 3 rakaat,
e. shalat isya terdiri dari 4 rakaat.
2. Rukun Shalat
Di dalam menjalankan ibadah shalat kita diharuskan untuk melakukannya sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah, yaitu dari rukun-rukunnya, dari segi gerakan, bacaan, termasuk keadaan hati ketika shalat. Apabila hal-hal seperti ini tidak diperhatikan, maka shalatnya rusak, batal, serta tidak berpahala di sisi Allah. Oleh sebab itu, kita diwajibkan mempelajari praktek shalat dengan benar. Rasulullah bersabda:
Artinya:
“Shalatlah kalian sebagaimana aku shalat.”
Sebelum menjalankan ibadah shalat, terlebih dahulu badan kita harus bersih dari najis dan hadas, yaitu dengan cara berwudu. Setelah berwudu maka kita bersiap untuk melaksanakan shalat dalam keadaan rapi, menutup aurat serta menghadap kiblat.
Di dalam mengerjakan shalat hendaknya memperhatikan hal-hal yang menjadi rukun shalat. Jika ada salah satu rukun yang tidak dilaksanakan maka shalatnya tidak syah atau batal. Yang termasuk rukun shalat adalah sebagai berikut.
1. Niat mengerjakan shalat,
2. Berdiri tegak jika berkuasa,
3. Takbiratul ihram, sambil membaca Allahu Akbar,
4. Membaca surat Al-Fatihah,
5. Ruku dengan tumaninah,
6. Itidal dengan tumaninah,
7. Sujud dua kali dengan tumaninah,
8. Duduk di antara dua sujud dengan tumaninah,
9. Duduk tasyahud awal,
10. Duduk tasyahud akhir, dengan cara duduk tawarruk,
11. Membaca salawat atas Nabi,
12. Membaca salam yang pertama,
13. Menertibkan rukun shalat.
B. Praktek Shalat
Setelah kita mengetahui rukun-rukun shalat, sekarang mari kita belajar melaksanakan shalat sesuai dengan contoh Nabi.
1. Niat mengerjakan shalat,
2. Berdiri tegak jika berkuasa,
Berdiri dengan menghadap kiblat, kedua tangan diturunkan ke samping, mata merunduk ke bawah ke arah tempat sujud,
3. Takbiratul ihram
Kedua belah tangan diangkat ke arah telinga dengan jari-jari rapat namun terbuka, sambil membaca;
Allahu akbar
Artinya: “Allah Maha Besar”
Setelah takbir, keadaan tangan sedekap (tangan kanan disimpan di tangan kiri dalam keadaan menggenggam sedikit lebih atas dari pergelangan tangan kiri).
4. Setelah itu membaca doa iftitah. Dalam membaca iftitah ini ada beberapa doa yang bisa kita baca, yaitu:
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah dengan kemuliaan-Mu, dengan nama-Mu yang penuh berkah dan dengan keagungan-Mu yang Maha Tinggi, tiada Tuhan selain Engkau.” (HR. Muslim)
Atau:
Artinya:
Ya Allah, Engkau telah menjauhlan antara Timur dan Barat, Ya Allah bersihkanlah saya dari kesalahan, sebagaimana kain putih dibersihkan dari segala kotoran. Ya Allah basuhlah kesalahanku dengan air, salju dan embun. (HR. Bukhari Muslim)
Atau:
Artinya:
“Sesungguhnya kuhadapkan wajahku kepada dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan berserah diri, dan aku bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanya bagi Allah semata, Tuhan seru sekalian alam, tidak ada sekuru bagi-Nya: dan dengan demikian itulah aku perintahkan, dan aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri .... sampai dan saya kembali kepadamu.” (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan Abu Daud)
5. Membaca surat Al-Fatihah,
Bacaan surat Al-Fatihah:
6. Setelah membaca surat Al-Fatihah kemudian membaca ayat-ayat pendek,
7. Ruku dengan tumaninah,
Setelah membaca surat, angkat kedua belah tangan sambil membaca ”Allahu akbar”, kemudian ruku (membungkuk, kedua tangan memegang lutut), lalu membaca:
Subhaanarabbiyal ‘azhiim
“Maha suci Tuhanku yang Maha Agung”, sebanyak 3x.
8. Itidal dengan tumaninah,
Setelah ruku, kita bangkit dan berdiri kembali sambil mengangkat kedua tangan seperti pada takbiratul ihram, sambil membaca:
Sami’al laahu liman hamidah
“Semoga Allah berkenan mendengarkan ucapan orang yang memujinya.”
Setelah itu berdiri tegak, kedua tangan kita lepaskan lurus ke bawah sejajar dengan badan, kemudian diikuti dengan membaca:
Rabbanaa wa lakal hamdu.
“Wahai Tuhan kami, dan hanya bagi-Mu segala puji.“
9. Sujud dua kali dengan tumaninah,
Ketika sujud membaca doa:
“Maha suci Tuhanku yang Maha Tinggi dengan memuji kepada-Nya” sebanyak 3x.
10. Duduk di antara dua sujud dengan tumaninah,
Setelah sujud kita duduk iftirasy yakni kaki kiri diduduki, sementara kaki kanan berdiri dan jari-jarinya dilipat, sambil membaca:
“Ya Tuhan, ampunilah aku, cukupilah kekuranganku, angkatlah derajatku, beri rizkilah aku, beri petunjuklah aku, sehatkanlah aku, dan maafkanlah aku.”
Setelah itu melakukan sujud yang kedua, dengan cara dan bacaan yang sama seperti sujud pertama.
11. Duduk tasyahud awal,
Pada rakaat kedua, setelah bangkit dari sujud kedua, lalu duduk tasyahud (tahiyat) awal, dengan cara duduk iftirasy yakni kaki kiri diduduki, sementara kaki kanan berdiri dan jari-jarinya dilipat, sambil membaca:
“Segala kehormatan, keberkatan, rahmat dan kebaikan adalah bagi Allah. Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkatan Allah tetap terlimpah atasmu wahai Nabi. Semoga keselamatan tetap bagi kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwasannya Muhammmad adalah utusan-Nya.”
Atau bisa juga membaca:
Artinya:
“Segala kehormatan, segala doa dan ucapan yang baik kepunyaan Allah, dan kesejahteraan atasmu wahai Nabi. Semoga keselamatan tetap bagi kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwasannya Muhammmad adalah utusan-Nya.”
12. Duduk tasyahud akhir, dengan cara duduk tawarruk yakni kaki kiri tidak lagi diduduki seperti pada tahiyyat awal, tetapi jari jemari kaki kiri muncul di bawah kaki kanan dan kita duduk pada tempat shalat (sajadah), sementara kaki kanan berdiri dan jari-jarinya dilipat.
13. Membaca shalawat atas Nabi,
Membaca shalawat ini dilakukan pada waktu duduk tasyahud akhir. Bacaannya sama dengan tasyahud awal, hanya pada tasyahud akhir ini dilengkapi dengan membaca shalawat atas Nabi:
“Sebagaimana Engkau telah memberi shalawat atas Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarganya, dan seluruh alam semesta ini, Engkaulah yang Maha Terpuji dan Maha Mulia.”
14. Setelah itu, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa:
Allahumma inni a’uudzubika min ‘adzaabil qobri wamin ‘adzaabil jahannama wamin fitnatil mahya walmamati wamin fitnatil masihid dajjal.
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala siksa kubur dan dari siksa neraka jahanam, serta dari fitnah kehidupan dan dari fitnah tipu daya dajjal.”
15. Membaca salam yang pertama,
Setelah tahiyat akhir kemudian salam (kepala menengok ke kanan kemudian ke kiri) sambil membaca:
“Semoga keselamatan dan rahmat Allah dilimpahkan atas kamu sekalian.”
1. Hafalkanlah setiap gerakan dan bacaan shalat yang telah kamu pelajari!
2. Buatlah kelompok yang terdiri dari lima orang dan praktekkan oleh masing-masing kelompok tata cara shalat subuh, zuhur, asar, magrib, dan isya di depan kelas dengan disaksikan guru dan kelompok lain!
Kegiatan Belajar 3
C. Hal-Hal yang Membatalkan Shalat
Di dalam mengerjakan shalat hendaknya memperhatikan hal-hal yang membatalkan shalat. Sebab, jika tidak maka kita akan rugi, dan shalat yang telah dilaksanakan menjadi sia-sia.
Ada tiga hal yang membatalkan shalat, yaitu sebagai berikut.
1. Tertinggal syarat shalat, misalnya;
a. tidak berwudu,
b. belum masuk waktu shalat,
c. terbuka aurat,
d. tidak menghadap kiblat, dan sebagainya.
2. Tertinggal rukun shalat, misalnya;
a. tidak berniat,
b. tidak takbiratul ihram, dan lain-lain.
3. Hal-hal lain
Ada hal lain yang membatalkan shalat, yaitu;
a. berkata-kata, bercakap-cakap, berbisik-bisik,
b. batal wudu,
c. sengaja bergerak selain gerakan shalat,
d. makan dan minum,
e. mengambil atau membuang sesuatu yang membatalkan wudu juga membatalkan shalat.
Puasa Ramadhan dan Puasa Sunah
PUASA RAMADHAN DAN PUASA SUNAH
A. Puasa Ramadan
Puasa merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Dalam agama Islam puasa disebut juga dengan saum. Puasa termasuk ibadah yang bersifat badaniyah seperti ibadah shalat.
Berpuasa sangat banyak manfaatnya dan memiliki keutamaan bagi yang menjalankannya. Selain itu, puasa memiliki dampak sosial yang sangat luas, terutama puasa yang dilakukan pada bulan suci Ramadan.
Apakah yang dimaksud dengan puasa Ramadan?
Puasa Ramadan adalah puasa yang diwajibkan kepada setiap muslim (laki-laki dan perempuan) pada bulan Ramadan selama satu bulan penuh (29 hari atau 30 hari). Puasa Ramadan mulai diwajibkan kepada umat Islam pada tahun ke-2 Hijrah Nabi saw. Tepatnya hari Senin tanggal 2 Syaban setelah dua tahun Nabi Muhammad saw. melakukan hijrah ke Madinah. Sejak itulah umat Islam melaksanakan puasa pada bulan Ramadan.
Kewajiban berpuasa pada bulan Ramadan juga diwajibkan oleh Allah kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw.
Firman Allah SWT:
Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)
Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman:
Artinya: “Bulan Ramadan yaitu bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil), maka barangsiapa yang berada di tempat tinggalnya pada bulan itu, hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah : 185)
Adapun hadis nabi yang menyatakan bahwa puasa Ramadan hukumnya wajib adalah sebagai berikut.
Artinya: “Islam didirikan atas lima dasar, yaitu mengaku bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan naik haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari Muslim dan Ahmad)
Berdasarkan pada ayat Al-Qur'an dan hadis nabi di atas, dijelaskan bahwa berpuasa pada bulan Ramadan hukumnya adalah wajib bagi setiap individu muslim. Oleh sebab itu, orang yang dengan sengaja tidak berpuasa pada bulan Ramadan, maka ia berdosa. Bahkan, sebagian berpendapat bahwa bagi orang yang dengan sengaja tidak berpuasa pada bulan Ramadan, maka ia dinyatakan kafir atau murtad.
Berpuasa pada bulan Ramadan dikatakan sah apabila terpenuhi syarat dan rukun puasa itu sendiri. Adapun, syarat-syarat bagi orang yang melaksanakan puasa Ramadan adalah:
1. beragama Islam,
2. balig atau sampai umur,
3. berakal (tidak gila dan tidak dalam keadaan mabuk),
4. suci dari haid dan nifas bagi perempuan,
5. mukim (berada di tempat tinggal sendiri) bukan dalam keadaan musafir (berada dalam perjalanan), dan
6. mampu untuk berpuasa (bagi orang yang sedang sakit atau orang yang lemah fisiknya tidak diwajibkan berpuasa).
Jika syarat-syarat di atas terpenuhi maka seseorang wajib menjalankan puasa pada bulan Ramadan. Kalau tidak, maka ia termasuk orang yang durhaka (berdosa).
Adapun yang menjadi ketentuan-ketentuan berpuasa pada bulan Ramadan adalah sebagai berikut.
1. Berniat Niat berpuasa pada bulan Ramadan harus dilakukan pada malam hari atau sebelum terbit fajar (sesudah makan sahur) dan tidak boleh berniat berpuasa wajib pada bulan Ramadan setelah siang hari. Niat berpuasa ini harus disesuaikan dengan puasa yang akan kita kerjakan.
Sabda Nabi saw:
Artinya: “Barangsiapa yang tidak menetapkan (niat) di hatinya sebelum fajar bagi orang yang hendak berpuasa pada esok harinya, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud)
2. Menahan diri dari melakukan makan dan minum serta menahan diri dari semua perbuatan yang dapat membatalkan puasa, mulai saat terbit fajar hingga datangnya waktu magrib (berbuka puasa). Adapun yang dapat membatalkan puasa di antaranya adalah melakukan makan, minum, berjima pada siang hari serta melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama Islam.
Selain ketentuan-ketentuan di atas, pada puasa bulan Ramadan disunahkan untuk melaksanakan makan sahur sebelum terbit fajar atau pada malam harinya.
Yang dimaksud dengan makan sahur adalah makan pada malam hari di bulan Ramadan sebelum terbit fajar bagi orang-orang yang akan menjalankan ibadah puasa. Makan sahur ini sebaiknya dilaksanakan menjelang waktu shalat subuh sekitar pukul 03.30-04.00 dini hari.
Makan sahur ini sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. bagi mereka yang akan menjalankan puasa keesokan harinya dan hukumnya adalah sunah. Makan sahur ini berguna untuk menjaga agar tubuh kita tetap kuat pada waktu siang hari. Selain itu, makan sahur tersebut mengandung banyak berkah bagi yang melakukannya.
Nabi saw. bersabda:
Artinya: “Bersahurlah kamu sekalian, karena sesungguhnya di dalam bersahur tersebut terdapat berkah.” (HR. Bukhari)
Jadi, ketika kita menjalankan puasa pada bulan Ramadan janganlah meninggalkan makan sahur karena di dalam makan sahur tersebut terdapat banyak kebaikan bagi siapa saja yang menjalankannya.
Selain itu, bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa wajib pada bulan Ramadan disunahkan untuk menyegerakan berbuka puasa jika sudah tiba saatnya untuk berbuka puasa. Berbuka puasa ini lebih baik didahulukan daripada melaksanakan ibadah shalat magrib. Selain itu, jangan sampai terlewatkan untuk berdoa terlebih dahulu ketika berbuka puasa.
Doa berbuka puasa yang biasa dibacakan oleh Nabi Muhammad saw. adalah:
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan kepada Engkaulah aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka puasa.”
Adapun, amalan-amalan lain yang disunahkan bagi orang yang sedang menjalankan puasa pada bulan Ramadan di antaranya adalah:
1. segera berbuka jika waktunya telah datang.
2. disunahkan berbuka puasa dengan yang manis seperti kurma atau makanan yang lainnya. Hal ini yang biasa disebut dengan takjil.
3. melakukan makan sahur pada malam harinya.
4. mengakhirkan makan sahur menjelang shalat subuh.
5. meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna dan perbuatan yang dapat mengurangi kesempurnaan dan pahala berpuasa.
6. memperbanyak perbuatan-perbuatan kebajikan, seperti membaca Al-Qur'an, banyak melaksanakan shalat sunat tarawih, berzikir, bersedekah, dan sebagainya.
7. sebelum berbuka puasa hendaklah berdoa terlebih dahulu.
8. memberikan makanan dan minuman bagi orang-orang yang akan berbuka puasa.
9. beriktikaf di mesjid, dan sebagainya.
1. Apakah kalian sudah terbiasa menjalankan puasa pada bulan Ramadan?
2. Bagaimana pengalaman kalian ketika menjalani puasa wajib bulan Ramadan?
3. Pernahkah kalian tidak berpuasa pada bulan Ramadan? Kenapa?
4. Kalian sedang menjalankan puasa Ramadan, kemudian datang seorang teman mengajak kalian pergi bermain. Ketika bermain, teman kalian tersebut merasa haus dan membeli minuman. Satu untuknya dan yang satunya lagi diberikan kepada kalian. Bagaimana sikap kalian dengan perbuatan tersebut?
5. Pada bulan Ramadan, Rudi dan teman-temannya pergi memancing di sungai. Ketika sedang asyik memancing, tidak sengaja teman Andi menemukan buah jambu. Lalu, buah tersebut diambil dan dimakannya. Bagaimana seharusnya sikap Andi melihat perbuatan temannya tersebut?
B. Puasa Sunah Senin Kamis
Puasa yang disyariatkan di dalam ajaran Islam ada yang hukumnya wajib (seperti perintah berpuasa pada bulan Ramadan) dan ada pula yang hukumnya sunah seperti berpuasa pada hari Senin dan Kamis.
Apa yang dimaksud dengan puasa Senin Kamis?
Puasa Senin Kamis adalah puasa sunah yang dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis. Hukumnya adalah sunah. Kita sebagai orang yang beriman disarankan untuk selalu melaksanakan puasa Senin Kamis tersebut. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw. yang diterima dari Aisyah dan diriwayatkan oleh Imam An-Nasai, yang berbunyi sebagai berikut.
Artinya: “Telah berkata Aisyah, bahwa Rasulullah saw. biasa mementingkan berpuasa setiap hari Senin dan Kamis.” (HR. An-Nasai)
Hadis lain menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda yang artinya sebagai berikut.
“Amal perbuatan itu diperiksa setiap hari Senin dan Kamis, maka saya senang diperiksa amal perbuatanku sedangkan saya sedang berpuasa.” (HR. At-Thirmidzi)
Praktek melaksanakan puasa Senin Kamis sama halnya dengan berpuasa pada bulan Ramadan. Begitu juga yang menjadi syarat dan rukunnya. Yang membedakannya adalah niat dan waktu pelaksanaannya.
Syarat-syarat berpuasa Senin Kamis adalah:
1. beragama Islam,
2. balig atau sampai umur,
3. berakal (tidak gila dan tidak dalam keadaan mabuk),
4. suci dari haid dan nifas bagi perempuan,
5. mukim (berada di tempat tinggal sendiri) bukan dalam keadaan musafir
(berada dalam perjalanan), dan
6. mampu untuk berpuasa (bagi orang yang sedang sakit atau orang yang lemah fisiknya tidak diwajibkan berpuasa).
Adapun, yang menjadi rukun puasa Senin dan Kamis adalah:
1. berniat. Niat berpuasa pada hari Senin dan Kamis harus dilakukan pada malam hari atau sebelum terbit fajar dan boleh berniat untuk berpuasa setelah siang hari. Selama belum melakukan makan dan minum apa-apa maka puasanya sah.
2. menahan diri dari melakukan makan dan minum serta menahan diri dari semua perbuatan yang dapat membatalkan puasa, mulai terbit fajar hingga datangnya waktu magrib (berbuka puasa).
Oleh sebab itu, kita sebagai orang yang beriman harus selalu berusaha untuk bisa menjalankan puasa sunah pada hari Senin dan Kamis sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad saw.
Apakah kalian pernah atau selalu melaksanakan puasa sunah Senin Kamis tersebut?
Bagi mereka yang melaksanakan puasa (baik puasa wajib pada bulan Ramadan maupun puasa sunah Senin Kamis) terkandung banyak hikmah baginya. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah:
1. menjadikan seseorang mencapai derajat ketakwaan kepada Allah SWT.
2. mendidik untuk berdisiplin dan mentaati peraturan.
3. mendidik untuk selalu bersopan-santun dan kasih sayang terhadap kaum duafa.
4. menimbulkan kecerdasan berfikir bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa.
5. menjadikan badan selalu sehat.
6. melatih hidup untuk selalu sederhana.
7. melatih untuk biasa menahan hawa nafsu.
8. merasakan kekurangan, kesengsaraan orang-orang fakir miskin dengan merasakan lapar dan haus pada waktu berpuasa.
Pernahkah kalian menjalankan puasa Senin dan Kamis?
Bagaimana sikap kalian ketika sedang menjalankan puasa sunah Senin dan Kamis tersebut? Coba kalian jelaskan dan diskusikan dengan teman-teman kalian?
Pengalaman apakah yang kalian dapatkan ketika menjalankan puasa sunah Senin dan Kamis?
A. Puasa Ramadan
Puasa merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Dalam agama Islam puasa disebut juga dengan saum. Puasa termasuk ibadah yang bersifat badaniyah seperti ibadah shalat.
Berpuasa sangat banyak manfaatnya dan memiliki keutamaan bagi yang menjalankannya. Selain itu, puasa memiliki dampak sosial yang sangat luas, terutama puasa yang dilakukan pada bulan suci Ramadan.
Apakah yang dimaksud dengan puasa Ramadan?
Puasa Ramadan adalah puasa yang diwajibkan kepada setiap muslim (laki-laki dan perempuan) pada bulan Ramadan selama satu bulan penuh (29 hari atau 30 hari). Puasa Ramadan mulai diwajibkan kepada umat Islam pada tahun ke-2 Hijrah Nabi saw. Tepatnya hari Senin tanggal 2 Syaban setelah dua tahun Nabi Muhammad saw. melakukan hijrah ke Madinah. Sejak itulah umat Islam melaksanakan puasa pada bulan Ramadan.
Kewajiban berpuasa pada bulan Ramadan juga diwajibkan oleh Allah kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw.
Firman Allah SWT:
Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)
Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman:
Artinya: “Bulan Ramadan yaitu bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil), maka barangsiapa yang berada di tempat tinggalnya pada bulan itu, hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah : 185)
Adapun hadis nabi yang menyatakan bahwa puasa Ramadan hukumnya wajib adalah sebagai berikut.
Artinya: “Islam didirikan atas lima dasar, yaitu mengaku bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan naik haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari Muslim dan Ahmad)
Berdasarkan pada ayat Al-Qur'an dan hadis nabi di atas, dijelaskan bahwa berpuasa pada bulan Ramadan hukumnya adalah wajib bagi setiap individu muslim. Oleh sebab itu, orang yang dengan sengaja tidak berpuasa pada bulan Ramadan, maka ia berdosa. Bahkan, sebagian berpendapat bahwa bagi orang yang dengan sengaja tidak berpuasa pada bulan Ramadan, maka ia dinyatakan kafir atau murtad.
Berpuasa pada bulan Ramadan dikatakan sah apabila terpenuhi syarat dan rukun puasa itu sendiri. Adapun, syarat-syarat bagi orang yang melaksanakan puasa Ramadan adalah:
1. beragama Islam,
2. balig atau sampai umur,
3. berakal (tidak gila dan tidak dalam keadaan mabuk),
4. suci dari haid dan nifas bagi perempuan,
5. mukim (berada di tempat tinggal sendiri) bukan dalam keadaan musafir (berada dalam perjalanan), dan
6. mampu untuk berpuasa (bagi orang yang sedang sakit atau orang yang lemah fisiknya tidak diwajibkan berpuasa).
Jika syarat-syarat di atas terpenuhi maka seseorang wajib menjalankan puasa pada bulan Ramadan. Kalau tidak, maka ia termasuk orang yang durhaka (berdosa).
Adapun yang menjadi ketentuan-ketentuan berpuasa pada bulan Ramadan adalah sebagai berikut.
1. Berniat Niat berpuasa pada bulan Ramadan harus dilakukan pada malam hari atau sebelum terbit fajar (sesudah makan sahur) dan tidak boleh berniat berpuasa wajib pada bulan Ramadan setelah siang hari. Niat berpuasa ini harus disesuaikan dengan puasa yang akan kita kerjakan.
Sabda Nabi saw:
Artinya: “Barangsiapa yang tidak menetapkan (niat) di hatinya sebelum fajar bagi orang yang hendak berpuasa pada esok harinya, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud)
2. Menahan diri dari melakukan makan dan minum serta menahan diri dari semua perbuatan yang dapat membatalkan puasa, mulai saat terbit fajar hingga datangnya waktu magrib (berbuka puasa). Adapun yang dapat membatalkan puasa di antaranya adalah melakukan makan, minum, berjima pada siang hari serta melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama Islam.
Selain ketentuan-ketentuan di atas, pada puasa bulan Ramadan disunahkan untuk melaksanakan makan sahur sebelum terbit fajar atau pada malam harinya.
Yang dimaksud dengan makan sahur adalah makan pada malam hari di bulan Ramadan sebelum terbit fajar bagi orang-orang yang akan menjalankan ibadah puasa. Makan sahur ini sebaiknya dilaksanakan menjelang waktu shalat subuh sekitar pukul 03.30-04.00 dini hari.
Makan sahur ini sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. bagi mereka yang akan menjalankan puasa keesokan harinya dan hukumnya adalah sunah. Makan sahur ini berguna untuk menjaga agar tubuh kita tetap kuat pada waktu siang hari. Selain itu, makan sahur tersebut mengandung banyak berkah bagi yang melakukannya.
Nabi saw. bersabda:
Artinya: “Bersahurlah kamu sekalian, karena sesungguhnya di dalam bersahur tersebut terdapat berkah.” (HR. Bukhari)
Jadi, ketika kita menjalankan puasa pada bulan Ramadan janganlah meninggalkan makan sahur karena di dalam makan sahur tersebut terdapat banyak kebaikan bagi siapa saja yang menjalankannya.
Selain itu, bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa wajib pada bulan Ramadan disunahkan untuk menyegerakan berbuka puasa jika sudah tiba saatnya untuk berbuka puasa. Berbuka puasa ini lebih baik didahulukan daripada melaksanakan ibadah shalat magrib. Selain itu, jangan sampai terlewatkan untuk berdoa terlebih dahulu ketika berbuka puasa.
Doa berbuka puasa yang biasa dibacakan oleh Nabi Muhammad saw. adalah:
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan kepada Engkaulah aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka puasa.”
Adapun, amalan-amalan lain yang disunahkan bagi orang yang sedang menjalankan puasa pada bulan Ramadan di antaranya adalah:
1. segera berbuka jika waktunya telah datang.
2. disunahkan berbuka puasa dengan yang manis seperti kurma atau makanan yang lainnya. Hal ini yang biasa disebut dengan takjil.
3. melakukan makan sahur pada malam harinya.
4. mengakhirkan makan sahur menjelang shalat subuh.
5. meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna dan perbuatan yang dapat mengurangi kesempurnaan dan pahala berpuasa.
6. memperbanyak perbuatan-perbuatan kebajikan, seperti membaca Al-Qur'an, banyak melaksanakan shalat sunat tarawih, berzikir, bersedekah, dan sebagainya.
7. sebelum berbuka puasa hendaklah berdoa terlebih dahulu.
8. memberikan makanan dan minuman bagi orang-orang yang akan berbuka puasa.
9. beriktikaf di mesjid, dan sebagainya.
1. Apakah kalian sudah terbiasa menjalankan puasa pada bulan Ramadan?
2. Bagaimana pengalaman kalian ketika menjalani puasa wajib bulan Ramadan?
3. Pernahkah kalian tidak berpuasa pada bulan Ramadan? Kenapa?
4. Kalian sedang menjalankan puasa Ramadan, kemudian datang seorang teman mengajak kalian pergi bermain. Ketika bermain, teman kalian tersebut merasa haus dan membeli minuman. Satu untuknya dan yang satunya lagi diberikan kepada kalian. Bagaimana sikap kalian dengan perbuatan tersebut?
5. Pada bulan Ramadan, Rudi dan teman-temannya pergi memancing di sungai. Ketika sedang asyik memancing, tidak sengaja teman Andi menemukan buah jambu. Lalu, buah tersebut diambil dan dimakannya. Bagaimana seharusnya sikap Andi melihat perbuatan temannya tersebut?
B. Puasa Sunah Senin Kamis
Puasa yang disyariatkan di dalam ajaran Islam ada yang hukumnya wajib (seperti perintah berpuasa pada bulan Ramadan) dan ada pula yang hukumnya sunah seperti berpuasa pada hari Senin dan Kamis.
Apa yang dimaksud dengan puasa Senin Kamis?
Puasa Senin Kamis adalah puasa sunah yang dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis. Hukumnya adalah sunah. Kita sebagai orang yang beriman disarankan untuk selalu melaksanakan puasa Senin Kamis tersebut. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw. yang diterima dari Aisyah dan diriwayatkan oleh Imam An-Nasai, yang berbunyi sebagai berikut.
Artinya: “Telah berkata Aisyah, bahwa Rasulullah saw. biasa mementingkan berpuasa setiap hari Senin dan Kamis.” (HR. An-Nasai)
Hadis lain menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda yang artinya sebagai berikut.
“Amal perbuatan itu diperiksa setiap hari Senin dan Kamis, maka saya senang diperiksa amal perbuatanku sedangkan saya sedang berpuasa.” (HR. At-Thirmidzi)
Praktek melaksanakan puasa Senin Kamis sama halnya dengan berpuasa pada bulan Ramadan. Begitu juga yang menjadi syarat dan rukunnya. Yang membedakannya adalah niat dan waktu pelaksanaannya.
Syarat-syarat berpuasa Senin Kamis adalah:
1. beragama Islam,
2. balig atau sampai umur,
3. berakal (tidak gila dan tidak dalam keadaan mabuk),
4. suci dari haid dan nifas bagi perempuan,
5. mukim (berada di tempat tinggal sendiri) bukan dalam keadaan musafir
(berada dalam perjalanan), dan
6. mampu untuk berpuasa (bagi orang yang sedang sakit atau orang yang lemah fisiknya tidak diwajibkan berpuasa).
Adapun, yang menjadi rukun puasa Senin dan Kamis adalah:
1. berniat. Niat berpuasa pada hari Senin dan Kamis harus dilakukan pada malam hari atau sebelum terbit fajar dan boleh berniat untuk berpuasa setelah siang hari. Selama belum melakukan makan dan minum apa-apa maka puasanya sah.
2. menahan diri dari melakukan makan dan minum serta menahan diri dari semua perbuatan yang dapat membatalkan puasa, mulai terbit fajar hingga datangnya waktu magrib (berbuka puasa).
Oleh sebab itu, kita sebagai orang yang beriman harus selalu berusaha untuk bisa menjalankan puasa sunah pada hari Senin dan Kamis sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad saw.
Apakah kalian pernah atau selalu melaksanakan puasa sunah Senin Kamis tersebut?
Bagi mereka yang melaksanakan puasa (baik puasa wajib pada bulan Ramadan maupun puasa sunah Senin Kamis) terkandung banyak hikmah baginya. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah:
1. menjadikan seseorang mencapai derajat ketakwaan kepada Allah SWT.
2. mendidik untuk berdisiplin dan mentaati peraturan.
3. mendidik untuk selalu bersopan-santun dan kasih sayang terhadap kaum duafa.
4. menimbulkan kecerdasan berfikir bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa.
5. menjadikan badan selalu sehat.
6. melatih hidup untuk selalu sederhana.
7. melatih untuk biasa menahan hawa nafsu.
8. merasakan kekurangan, kesengsaraan orang-orang fakir miskin dengan merasakan lapar dan haus pada waktu berpuasa.
Pernahkah kalian menjalankan puasa Senin dan Kamis?
Bagaimana sikap kalian ketika sedang menjalankan puasa sunah Senin dan Kamis tersebut? Coba kalian jelaskan dan diskusikan dengan teman-teman kalian?
Pengalaman apakah yang kalian dapatkan ketika menjalankan puasa sunah Senin dan Kamis?
Tolong Menolong dalam Pandangan Islam
Tolong-menolong
Di antara salah satu sifat yang terpuji adalah perbuatan tolong-menolong. Menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan dari kita adalah ibadah dan diperintahkan oleh Allah SWT. Dengan menolong orang lain, suatu ketika jika kita membutuhkan pertolongan orang lain tentulah orang lain akan menolong kita. Oleh sebab itu, ajaran Islam menegaskan bahwa sebagai muslim kita harus senantiasa tolong-menolong dalam berbuat kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan kesalahan. Sebagaimana Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur'an:
Artinya: “Tolong-menolonglah kamu sekalian dalam urusan kebaikan dan ketakwaan dan janganlanlah kamu sekalian tolong-menolong dalam urusan perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah : 2)
Selain tolong-menolong, Islam juga menyuruh umatnya untuk selalu saling berbuat baik antara yang satu dengan yang lain. Sebab, perbuatan baik apapun yang kita kerjakan, itu semua akan kembali kepada kita sendiri.
Firman Allah SWT:
Artinya: “....Dan berbuat baiklah (kepada manusia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashas : 77)
Nilai pertolongan yang diberikan oleh seorang muslim bukan pada besar kecilnya pertolongan. Akan tetapi keikhlasan kita memberikan pertolongan. Pertolongan yang diberikan kepada seseorang senantiasa harus menjaga agar orang yang ditolong tersebut tidak merasa dihinakan, direndahkan, dan disakiti hatinya.
Dijelaskan bahwa bagi seorang mukmin yang suka menolong terhadap mukmin lainnya, maka Allah SWT akan memberikan pertolongan kepadanya ketika ia membutuhkan. Sebaliknya, bila seorang mukmin tidak suka menolong saudaranya sesama mukmin maka Allah SWT pun akan membiarkan bahkan tidak menyukai orang tersebut.
Perbuatan tolong-menolong sangat besar pengaruhnya (dampaknya) terhadap kehidupan manusia. Di antaranya adalah:
1. Menumbuhkan serta memupuk ikatan persaudaraan yang kokoh.
2. Menjaga ikatan persaudaraan yang sudah terjalin.
3. Menumbuhkan rasa kasih sayang di antara orang yang menolong dan orang yang ditolong.
4. Memperbanyak persaudaraan dan kekeluargaan.
5. Terciptanya lingkungan (rumah, keluarga, dan masyarakat) yang tentram dan harmonis.
6. Menghilangkan rasa permusuhan dan dendam yang pernah tertanam pada diri seseorang.
7. Disukai dan disayangi oleh sesama manusia.
8. Orang yang suka tolong-menolong akan selalu dicintai Allah SWT dan kehidupannya akan dipermudah oleh-Nya.
Itulah diantara akibat atau dampak yang bisa ditimbulkan dari perbuautan saling tolong menolong. Oleh sebab itu, sebagai orang yang beriman kita harus selalu menolong orang lain yang memerlukan pertolongan, baik itu saudara maupun bukan. Suatu saat jika kita membutuhkan pertolongan, maka Allah akan memudahkan datangnya pertolongan kepada kita, siapapun yang menjadi perantaranya.
C. Contoh Sikap Orang yang Suka Menolong
Dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat, baik secara perorangan maupun secara kelompok, tentunya kita satu sama lain saling memerlukan pertolongan. Orang kaya membutuhkan pertolongan orang tidak mampu, anak memerlukan pertolongan orang tua dan saudaranya. Di sekolah juga kita membutuhkan pertolongan guru dan teman-teman kita.
Di antara salah satu sifat yang terpuji adalah perbuatan tolong-menolong. Menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan dari kita adalah ibadah dan diperintahkan oleh Allah SWT. Dengan menolong orang lain, suatu ketika jika kita membutuhkan pertolongan orang lain tentulah orang lain akan menolong kita. Oleh sebab itu, ajaran Islam menegaskan bahwa sebagai muslim kita harus senantiasa tolong-menolong dalam berbuat kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan kesalahan. Sebagaimana Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur'an:
Artinya: “Tolong-menolonglah kamu sekalian dalam urusan kebaikan dan ketakwaan dan janganlanlah kamu sekalian tolong-menolong dalam urusan perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah : 2)
Selain tolong-menolong, Islam juga menyuruh umatnya untuk selalu saling berbuat baik antara yang satu dengan yang lain. Sebab, perbuatan baik apapun yang kita kerjakan, itu semua akan kembali kepada kita sendiri.
Firman Allah SWT:
Artinya: “....Dan berbuat baiklah (kepada manusia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashas : 77)
Nilai pertolongan yang diberikan oleh seorang muslim bukan pada besar kecilnya pertolongan. Akan tetapi keikhlasan kita memberikan pertolongan. Pertolongan yang diberikan kepada seseorang senantiasa harus menjaga agar orang yang ditolong tersebut tidak merasa dihinakan, direndahkan, dan disakiti hatinya.
Dijelaskan bahwa bagi seorang mukmin yang suka menolong terhadap mukmin lainnya, maka Allah SWT akan memberikan pertolongan kepadanya ketika ia membutuhkan. Sebaliknya, bila seorang mukmin tidak suka menolong saudaranya sesama mukmin maka Allah SWT pun akan membiarkan bahkan tidak menyukai orang tersebut.
Perbuatan tolong-menolong sangat besar pengaruhnya (dampaknya) terhadap kehidupan manusia. Di antaranya adalah:
1. Menumbuhkan serta memupuk ikatan persaudaraan yang kokoh.
2. Menjaga ikatan persaudaraan yang sudah terjalin.
3. Menumbuhkan rasa kasih sayang di antara orang yang menolong dan orang yang ditolong.
4. Memperbanyak persaudaraan dan kekeluargaan.
5. Terciptanya lingkungan (rumah, keluarga, dan masyarakat) yang tentram dan harmonis.
6. Menghilangkan rasa permusuhan dan dendam yang pernah tertanam pada diri seseorang.
7. Disukai dan disayangi oleh sesama manusia.
8. Orang yang suka tolong-menolong akan selalu dicintai Allah SWT dan kehidupannya akan dipermudah oleh-Nya.
Itulah diantara akibat atau dampak yang bisa ditimbulkan dari perbuautan saling tolong menolong. Oleh sebab itu, sebagai orang yang beriman kita harus selalu menolong orang lain yang memerlukan pertolongan, baik itu saudara maupun bukan. Suatu saat jika kita membutuhkan pertolongan, maka Allah akan memudahkan datangnya pertolongan kepada kita, siapapun yang menjadi perantaranya.
C. Contoh Sikap Orang yang Suka Menolong
Dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat, baik secara perorangan maupun secara kelompok, tentunya kita satu sama lain saling memerlukan pertolongan. Orang kaya membutuhkan pertolongan orang tidak mampu, anak memerlukan pertolongan orang tua dan saudaranya. Di sekolah juga kita membutuhkan pertolongan guru dan teman-teman kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)